Minggu, 03 Februari 2019

Memulai Bisnis, Bukan Masalah Modal namun Komitmen

Saat duduk di bangku SMA hingga awal kuliah, menjadi pengusaha besar adalah cita-citaku. Ketika itu aku sangat berambisi untuk mengembangkan bisnis yang telah aku sejak SMA tahun pertama yaitu Reelve Center (Sekarang bernama Konveksi Aceh) bersama seorang teman SMP-ku. Sebut saja nama temanku tersebut adalah thok (bukan nama sebenarnya)

Bisnis yang aku dan thok jalankan dimulai dari menawarkan jasa desain dan pembuatan stiker, gantungan kunci kepada teman-teman SMA ataupun SMP yang kami kenal, hingga akhirnya berkembang menjadi bisnis penyedia jasa pembuatan koas, kemeja PDL/PDH/Korsa, jaket, tatebag dan beberapa hal lain yang relevan 

sumber : pixabay.com

Hingga sampai di semester terakhir pada masa SMA, bisa dibilang ini adalah masa dimana aku dan thok sangat fokus mengembangkan bisnis kami. Thok merupakan seorang yang memiliki jiwa marketing yang sangat tinggi, sampai akhirnya dia memilih untuk masuk fakultas ekonomi di masa kuliah. Dia dengan mudahnya bisa mendapatkan begitu banyak konsumen dan membuat para konsumen menjadi loyal, inilah yang menjadi salah satu hal yang membuatku semakin yakin dan berhasrat untuk menjadikan bisnis ini menjadi bisnis besar dan sukses. 

Thok dan aku memiliki peran berbeda yang sama-sama penting. Jika thok adalah seorang marketer ulung maka aku adalah eksekutor ulung (hiya hiya hiya). Jika thok bertugas untuk bisa mendapatkan banyak konsumen dan membuat para konsumen menjadi loyal, maka akulah yang akan mengeksekusi semua pesanan dari konsumen-konsumen tersebut. Sehingga menjadi seimbang antara banyaknya konsumen yang bisnis kami dapatkan dan pelayanan terbaik yang kami berikan. Pada akhirnya, banyak konsumen yang tidak hanya bertransaksi sekali, namun bisa sampai dua tiga kali.  

Memang aku yang tidak memiliki jiwa marketing seperti thok, sehingga sangat jarang konsumen dating dari-ku. Namun seperti yang aku sampaikan di paragraph sebelumnya peran-ku adalah sebagai eksekutor, dan ini juga sangatlah pentih. Aku bisa mendapatkan banyak channel berbagai tempat produksi untuk pesanan-pesanan bisnis kami.

Tentunya aku ikut mempelajari berbagai hal jenis-jenis bahan, harga pasaran, tingkatan kualitas dan banyak hal lain yang berkaitan dengan dunia konveksi. Kami selalu memberikan harga yang paling sesuai dengan budget yang dimiliki konsumen tersebut. Biasanya aku sendiri yang menentukan harga karena sebelumnya aku telah mendapatkan tawaran harga di tempat produksi. Selanjutnya harga yang telah aku tentukan ditawarkan oleh thok kepada konsumen dan terjadi nego-nego kecil sampai mendapatkan harga yang bisa diterima oleh kedua pihak. 

Selain mengeksekusi langsung proses produksi aku biasa juga memulai dengan membuat desain sesuai dengan apa yang diinginkan oleh konsumen, sehingga konsumen benar-benar bisa menjadi puas. Para konsumen umumnya hanya memberikan sketsa gambar yang diinginkan oleh mereka sembari menjelaskan secara ringkas konsep yang diinginkan.

Walaupun aku saat ini sudah tidak fokus 100% pada bisnis Konveksi Aceh, Namun Konveksi Aceh masih tetap berjalan dan masih ada. Di era digital ini Konveksi Aceh sudah sepenuhnya online, aku hanya menerima pesana melalui online tanpa tatap muka, karena memang kebetulan aku sudah tidak tinggal di Aceh, dan thok sudah fokus pada bisnis keluaga

Semangatku untuk kembali mengembangkan bisnis Konveksi Aceh ini sebenarnya sudah dimulai ketika aku kenal dengan sebuah website yang tepat untuk berbelanja kebutuhan usaha melalui website pusat grosir online, yang bernama Ralali.com. Resolusi bisnisku di 2019 adalah fokus dengan terus berkomitmen untuk mengembangkan konveksiaceh.com

Dari pengalaman berbisnis Konveksi Aceh tersebut aku meyakini bahwa untuk memulai bisnis tidak selalu yang paling dibutuhkan adalah modal, namun komitmen dan tujuan yang sama antara kita dan rekan bisnis kita untuk menjadikan bisnis yang kita mulai menjadi bisnis besar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Facebook

Follow This Blog