Minggu, 10 Februari 2019

Dipaksa Membaca Akibat Terpaksa Menulis

Mungkin bisa dikatakan bahwa setiap tulisan besar dari penulis hebat, selalu dilandasi oleh sebuah latar bakang yang jelas dan kuat. Sehingga tulisan besar tersebut menarik untuk dibaca dan terus dibaca bahkan oleh generasi setelahnya. Selain aspek menarik, tentu tulisan besar yang berdasarkan latar belakang yang kuat akan sangat menarik untuk dibaca karena memiliki nilai tersendiri yang tidak dimiliki oleh tulisan biasa ataupun tulisan pada umumnya.  
Korelasi antara judul dan paragraf pertama diatas sebenarnya adalah penyampaian pesan bahwa tulisanku ini (yang lagi teman-teman baca) adalah tulisan yang tidak memiliki latar belakang yang jelas, hanya saja judul Dipaksa Membaca Akibat Terpaksa Menulis tersebut menarik menurutku. Inspirasi judul ini sendiri aku dapatkan secara spontan ketika sedang duduk di depan komputer dan tiba-tiba sedang ingin menulis dikarenakan, karena memang sedang tidak memiliki judul untuk ditulisan, dan akhirnya aku dapatkan judul ini.
sumber : pixabay.com

Tanpa disadari sebenarnya judul diatas sangat relevan dengan masa yang sedang aku alami bersama dengan teman-teman mahasiswa lainnya seluruh pelosok negeri. Tentu menulis merupakan satu hal yang sangat erat kaitannya dengan dunia akademik (Sebenarnya tidak terbatas hanya dalam dunia akademik, namun lebih luas dari itu, kalo kata Pramoedya Ananta Toer menulis adalah bekerja untuk keabadian)  
Kembali pada pembahasan awal, bahwa dunia akademik dimana mahasiwsa menjadi salah satu unsur utama, pastinya menulis dan membaca bukanlah sebuah hal asing. Tentu mahasiswa umunya sudah terbiasa dengan menulis, paling tidak jika memang benar-benar tak pernah menulis, tentu semua mahasiswa pernah mengalami ataupun akan mengalami masa menulis skipsi.
Sebelumnya tentu aku harus memohon maaf, jika tulisanku dirasa terlalu berasumsi, sok tau dan mengeneralisasi. Karena untuk saat ini memang aku sendiri belum mengalami masa skipsi. Namun yang aku  menulis berdasarkan hal yang aku pahami dan aku lihat walaupun tanpa latar belakang yang kuat.
Jika dihubungkan antara proses membaca dan menulis yang paling terlihat dan paling banyak ditemukan adalah proses penyusunan skripsi. Setiap mahasiswa pastinya tau apa itu skripsi, banyak mahasiswa yang terhalang atau tentunda kelulusanya akibat skripsi, sehingga akhirnya banyak ditemukan status yang membuat plesetan kata skripsi menjadi skripshit (maaf sedikit kasar).
Masa penyusunan skripsi, mungkin bagi sebagian besar mahasiswa menjadi masa terberat didalam kehidupnya sebagai mahasiswa, tentu lebih berat daripada di bully teman saat dikelas, ataupun daripada ditinggal pacar saat lagi sayang-sayangnya (asik), atau hanya sekedar tak dikirim uang bulanan, Itu semua tak seberat masa skripsi. (maaf jika keliatannya aku sok tau dan lebay, tapi aku yakin sih gitu)
Saat skripsi, mahasiswa yang diawal kerjaanya cuma main, ataupun cuma pacaran, atau lebih tepatnya gak pernah belajar, tiba-tiba ditemukan sedang fokus di perpustakaan kampus. Tentu ini sebuah fenomena, pada akhrinya mereka dipaksa untuk membaca (banyak buku) akibat terpaksa menulis (skirpsi).
Fenomena mahasiswa akhir yang sedang berjuang menyelesaikan skripsi bukanlah hal asing, biasanya mereka bisa duduk berjam-jam (umumnya di perpustakaan kampus) di depan laptop ditemani beberapa buku tebal (sesuai dengan bidang ilmu mereka) yang pastinya relevan dengan judul skripsi yang diangkat.
Pada dasarnya membaca terbaik adalah membaca dari hati dan  dorongan pribadi. Namun bukan berarti membaca berdasarkan dorongan suatu hal ataupun dorongan orang lain (tidak dari hati) menjadi membaca yang buruk. Hanya saja, sesuatu yang didapat dari bacaan yang telah dibaca yang bisa jadi memakan waktu yang tidak lama (Jika membaca buku) akan berbeda nilainya antara mereka yang membaca akibat terpaksa dan mereka yang membaca langsung dari dorongan hati.
Sekali lagi ini hanya opini pribadi, yang tanpa latar belakang kuat, namun hanya berdarakan apa yang aku pahami dan aku lihat, juga ada beberapa hal yang berdasarkan pengalaman pribadi yang aku alami, ayaupun pengalaman orang lain yang diceritakan ke aku, ataupun aku lihat langsung.
Karena sebelumnya membahas masalah skripsi aku jadi penasaran sejarah skripsi itu sendiri bagaimana, dan sejak kapan diterapkan menjadi tolak ukur kelulusan mahasiswa di proses pendidikan perguruan tinggi di Indonesia. Oleh karena itu kini aku sedang Dipaksa Membaca (terkait skripsi) Akibat Terpaksa harus Menulis artikel baru di blog. Namun Insya Allah aku membaca atas dorongan hati, tidak karena dipaksa, begitu juga sebaliknya pada menulis, sama sekali aku menulis ini tidak dalam keaadaan terpaksa.
Hasil dari bacaanku (semoga benar) berdasarkan salah satu tread dari kaskus.com sripsi merupakan metode yang diadopsi dari apa yang dilakukan di Eropa pada abad pertengahan, saat itu seorang pekerja yang ingin menjadi anggota asosiasi pekerja harus membuktikan keahliannya dengan menghasilkan suatu karya, yang disebut masterpiece. Karya ini kemudian diperiksa oleh para pengurus asosiasi dan, kalau yang bersangkutan dinyatakan lulus, ia diberi gelar Master di bidangnya dan diterima menjadi anggota asosiasi.
Saat perguruan tinggi didirikan, para pengelolanya mengadopsi praktek itu sebagai syarat bagi seseorang yang ingin memperoleh gelar Sarjana, Master ataupun Doktor. Mahasiswa harus terlebih dahulu membuktikan diri mampu melaksanakan penelitian ilmiah (skripsi) dengan baik dan benar. Saat ini skripsi berfungsi seperti masterpiece para pekerja di zaman abad pertengahan itu, yaitu bukti atas kemampuan atau keahlian mereka untuk melaksanakan tugas tertentu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Facebook

Follow This Blog