Senin, 27 Agustus 2018

Mempertanyakan Branding Ajang Pengenalan Kampus UII yang Terus Berubah

Pada kamis, 19 Juli 2018 Lembaga Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (LEM UII) menyebarkan informasi di beranda Offical Account Line@ mereka dengan judul Oprec OC PESTA UII 2018. Selain memuat informasi lengkap terkait detail jadwal penting, persyaratan, dan divisi yang berkaitan dengan open recruitment panitia OC Pesta UII, disana juga memuat sebuah logo berwarna kombinasi antara biru dan kuning dengan bentuk tangan yang sedang meklakukan salam kompak yang diapit oleh sebuah buku yang terbuka dibawah dan bunga  berwarna putih dengan outline batik dibagian atas.

Selain logo yang tampak berbeda dengan tahun lalu, nama yang tercantum disana juga sedikit berbeda. Jika pada pesta tahun 2017 menggunakan nama “Pesta Unisi” tahun ini mengguanakan nama “Pesta UII” perbedaannya memang tidak terlalu signifikan hanya singkatan Universitas Islam Indonesia yang diubah antara UII ditahun ini dan Unisi di tahun lalu. Selain logo dan nama yang juga berbeda adalah akun sosial media pesta tahun ini, yang sama sekali tidak melanjutkan akun sosial media tahun 2017 lalu, baik Instagram maupun Line@.

Aku mencoba melakukan konfirmasi terkait hal ini kepada Alif Farhan Putra selaku Koordinator divisi Publikasi Dokumentasi (Pubdok) Pesta Unisi 2017, Alif mengatakan ”Wah untuk itu ga ada kordinasi dalam bentuk apapun, aku aja baru tau kalo ternyata sosmed yang berhubungan dengan pesta itu di alihkan ke new account (Akun baru -red). Kalau di tanya kenapa gak di kasihpun, orang tahun yang sekarang (Pubdok Tahun ini -red) juga gak pernah menanyakan langsung ke aku. Gatau kalo ada pihak PDD yg sekarang meminta ke pihak lain, itu di luar sepengetahuan aku” Dia menambahkan “Jadi aku pikir itu sudah jadi kebiasaan tiap tahunnya (Membuat akun sosmed baru setiap Pesta -red)”

Di hari terakhir Pesta UII 2018 Aku melakukan wawancara langsung dengan Fadillah Adkiras selaku pihak Komisi A SC Pesta UII 2018 yang membawahi salah satunya divisi Pubdok, dia mengatakan “Jadi kenapa buat yang baru, pertama dari kami sendiri, kami memang mau membuat yang baru, bukan melanjutkan yang kemarin, karena memang ya kami punya hak dan kewenangan untuk membuat yang baru, dari pada kami melanjutkan yang kemarin”.

Saat aku menanyakan alasan konkrit terkait mengapa harus membuat akun sosial media yang baru, ia menambahkan “Sebenarnya memang gaada alasan apapun, gaada sentimen apapun, memang pure kami ingin membuat yang baru, karena yang membuatpun saya, yang membuat email dan feed pertama juga saya, jadi emang benar-benar mau buat konsep baru aja, jadi biar lebih seger aja sih”.

Saat Aku mencoba melakukan konfirmasi terkait pernyataan Koordinator Pubdok Pesta Unisi 2017 yang sebelumnya sempat mengatakan bahwa tidak ada k0ordinasi dalam bentuk apapun terkait peralihan akun sosial media oleh pihak Panitia Pesta UII 2018, Fadillah membenarkan hal tersebut, dia menuturkan ”Iya memang tidak ada koordinasi, emang benar-benar pure 2018 sendiri”. Mahasiswa Fakultas Hukum 2016 tersebut menambahkan “Dari rapat SC memang kami menyepakati untuk akhirnya membuat yang baru“.

Sedangkan untuk perubahan nama jika kita milirik sedikit sejarah ajang pengenalan kampus UII memang acap kali mengalami perubahan dari masa ke masa. Tercatat sekitar tahun 1970-an, acara tersebut bernama Mapram, kemudian berganti menjadi Mapras, kemudian berganti menjadi Pekan Orientasi Mahasiswa (Posma), kemudian berganti lagi menjadi Masa Kuliah Umum (MKU) di tahun 1983, kemudian berganti lagi menjadi Orientasi Program Studi Pengenalan Kampus (OPSPEK) pada 1985, kemudian berganti lagi menjadi Pekan Ta’aruf (Pekta) pada 1995, kemudian berganti lagi menjadi Pesona Ta’aruf (Pesta) pada 2004 hingga sebelum diganti menjadi Pesta Unisi pada 2017, sampai dengan di 2018 kembali menjadi Pesta UII.

Dalam kesempatan yang sama Aku juga menanyakan terkait nama Pesta Unisi di tahun 2017 kepada Alif Farhan Putra, ia mengatakan “Kalo berbicara kanapa UNISI bukan UII (Tahun lalu), karna ingin mengeksistensikan nama itu kembali, unisi sendiri adalah nama pertama setelah berganti dari STI waktu itu” Kami juga mengkonfirmasi terkait spekulasi yang pernah ada, yang mengatakan bahwa penamaan Unisi di tahun 2017, berkaitan dengan kasus mapala Unisi, Alif  mengkonfirmasi bahwa “Kalo di sangkutkan dengan mapala kemarin itu gak ada garis koordinasi sama sekali, karena itu sudah masuk kepentingan yang berbeda. Nah mungkin kalo berbicara tentang arahan dari siapa mungkin dari LEM tahun lalu atau pun SC tahun lalu”.

Selain menanyakan kepada Alif selalu pihak panitia OC Pesta Unisi 2017, Aku juga menanyakan hal yang sama kepada Fadillah Adkiras selaku pihak Komisi A SC Pesta UII 2018, kenapa nama pesta kembali menggunakan Pesta UII pada 2018. Fadillah mengatakan “Sekarang kami mau kembali lagi ke 2 tahun sebelumnya, untuk menamakan lagi menjadi Pesta UII, begitu sih kalo dari kami, kemarin itu sempat ada debat panjang sebenarnya apa melanjutkan atau merubah nama tersebut”.

Sedanglkan perbedaan logo Pesta antara tahun ini dan tahun lalu terlihat sangat signifikan, memang untuk icon yang diguanakna sama, yaitu dua tangan, namun pada logo tahun lalu dua tangan tersebut membuka keatas dan ditambah mata pena dan sedikit icon lain. Sedangkan tahun ini berbentuk tangan yang sedang meklakukan salam kompak yang diapit oleh sebuah buku yang terbuka dibawah dan bunga  berwarna putih dengan outline batik dibagian atas.

Jika dilihat logo Pesta UII setiap tahunnya memang selala berbeda, tidak pernah melanjutkan logo yang sudah ada. Ketika Aku mencoba menelusuri jejak digital logo-logo Pesta UII setiap tahunya, aku hanya menemukan logo pesta tahun 2015, 2017 dan 2018 di Internet, sedangkan ketika aku menulusuri melalui buku panduan Pesta aku menemukan logo-logo tahun 2008, 2014, 2016. Berikut infografis terkait logo dan sosmed ajang pengenalan kampus UII sejak 2008


Masalah logo pihak panitia pesta setiap tahun memang seperti punya wewenang sendiri untuk membuat baru, memperbaharui, atau melanjutkan logo yang sudah ada, nyatanya memang tidak ada aturan baku terkait hal tersebut sehingga setiap tahun ganti logo. Aku mencoba menanyakan langsung hal tersebut kepada Fadillah “Jadi itu bukan kaya wewenang tapi lebih ke arah historis sih,  setiap tahun memang punya logo masing-masing, makanya kami membuat logo baru dari kami”.  

Aku juga menanyakan kepada Fadillah apakah dari LEM memang tidak memiliki aturan baku terkait nama, logo dan sosmed ajang pengenalan kampus, ia mengatakan “Tidak ada mas”, Aku melanjutkan pertanyaanku  artinya, apabila tahun depan aku menjadi SC dan merubah nama menjadi Party UII begitu bisa dong”, Fadillah menjawab “Itu kembali lagi, jika dari DPM  (Dewan Permusyawaratan Mahasiswa -Red) menyepakati waktu verifkasi berarti itu dibolehkan, tapi itu pasti ada pertimbangan kenapa DPM menyepakati hal tersebut”.  

Pada akhir wawancara dengan Fadillah selaku Pihak SC Pesta UII 2018 kami menanyakan terkait harapan nama, logo dan sosmed Pesta UII dilanjutkan dari tahun ini atau bagaimana, ia mengungkapkan “Maunya ditunggalkan saja mas untuk logo dan Instagram, Karena tidak dipungkiri lagi kalo Instagram sekarang bisa kita anggap sebagai wajhah dan perlu teknik dan meke ap yang baik biar wajahnya terlihat cantik hehe”. Saat  Aku memperjelas maksud ditunggalkan disini apa, ia menambahkan “Kalo aku pribadi sih mas pengennya dibuat baru, satu yang universal dan bagus tetapi punya makna gitu sih, jadi biar fair juga antara panitia dari tahun-tahun sebelumnya ”.

Alif  menyanyangkan terkait perubahan akun-akun sosmed dan logo, ia mengatakan “Kalo dari aku pribadi di sayangkan karna kami tim pesta 2017 sudah bekerja sedemikian rupa untuk membuat konten yg layak di publish. Ini bukan hanya hasil kerja aku pribadi atau pun divisi PDD itu sendiri. Tapi itu bukti nyata ke seriusan kita (Seluruh jajaran Pesta Unisi 2017 -Red) yang menggarap fenomena tahunan yg Megah”. Ia menambahkan “Tapi itu balik lagi ke pribadi teman-teman  panitia (Panitia Tahun 2018). Sah-sah saja kalau mereka melakukannya toh semua demi tujuan yg baik kan”.

Memang tidak ada hal yang harus dipermasalahkan terkait perubahan nama, logo dan akun sosial media yang terus terjadi pada ajang pengenalan kampus UII. Namun ketika kita berbicara terkait Branding maka ini menjadi masalah besar. Jika kita merujuk pada buku Manajemen Pemasaran karya Philip Kotler yang merupakan seorang penulis tentang pemasaran dari Amerika, ia mengatakan Brand adalah pemberian nama, istilah, tanda, simbol, rancangan, atau kombinasi dari kesemuanya, yang dibuat dengan tujuan untuk mengidentifikasikan barang atau jasa atau kelompok penjual dan untuk membedakan dari barang atau jasa pesaing.

Ketika nama, logo dan akun sosial media terus berubah, maka pengidentifikasian sebuah ajang pengenalan kampus UII tidak akan mampu menjual dirinya sendiri. Hal ini akan sangat disayangkan, karena ketika kita berkaca dengan universitas besar lainnya, mereka sangatlah konsisten terkait nama, logo dan sosial media  ajang pengenalan universitas kepada mahasiswa barunya. sejarah akan mencatan bahwa  ajang pengenalan kampus UII, adalah  ajang pengenalan kampus yang sangat tidak konsisten dengan terus merubah setiap tahunya. Dampak lain yang akan terasa adalah, jumlah pengikut sosial media  ajang pengenalan kampus UII tidak akan mencapai jumlah yang besar

UII masih punya kesempatan untuk kembali membangun brand image ajang pengenalan kampusnya. Semua bisa dimulai dengan membuat aturan baku terkait penamaan, logo dan sosial media ajang pengenalan yang tidak boleh dirubah. Dalam hal ini yang memiliki wewenang penuh adalah pihak Lembaga Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (LEM UII) selalu pihak yang menjalankan ajang pengenalan kampus UII bagi mahasiswa baru. Jangan hanya merasa bangga dengan Student Goverment jika hanya untuk hal sepele yaitu konsisten dengan nama, logo dan sosial media untuk membangun Brand Image ajang pengenalan kampus saja belum mampu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Facebook

Follow This Blog