Cerita Puasa Ramadan si Anak Rantau

Merantau merupakan suatu hal yang dianggap menakutkan oleh sebagaian orang, namun sebagian lain menggap ini adalah langkah awal untuk meraih mimpi2 mereka, kali ini ane coba mengemas artikel ini dalam bentuk cerita, karena ane rasa tulisan belakangan ini kebanyakan berbentuk ceramah yang kagak karuan, mungkin sedikit banyak bisa bermanfaat bagi orang2 yang sesat dari kata kunci google

Oke sembari menunggu sahur (ane ketika artikel ini ditulis) sedikit  berbagi rasanya 15 awal puasa di perantauan, ini merupakan Ramadan dan juga nantinya akan dilanjutkan dengan Idul Fitri perdana ane diperantauan, jauh dari keluarga, jauh dari teman lama, jauh dari tanah kelahiran memang sedikit banyak akan merasa memberatkan, namun dengan fokus pada tujuan dan mimpi akan membuat rasa berat tersebut menjadi ringan

Hal pertama yang paling terasa adalah saat tarawih, sahur dan buka perdana tanpa keluarga, saat tarawih perdana itu ane shalat di salah satu mesjid dekat tempat tinggal ane, jaraknya tidak begitu jauh bisa dijangkau dengan berjalan kaki, saat itu ane sedikit merasa kurang dikarenakan saat di Aceh saat tarawih perdana selalu ane pergi bersama adik ane ke mushola desa, dan tidak jauh berbeda dengan saat sahur, dimana biasanya ane sahur bersama keluarga di meja makan dengan makanan masakan orang tua dan sekarang harus sahur bersama teman dengan makanan apa yang mudah

Saat berbuka perdana diperantau ane sedikit tidak berasa karena ketika itu ane berbuka di warung salah satu saudara ane yang ada disini, dan ketika kami berbuka bersama dengan masakan Aceh, namun moment berbuka terasa berbeda saat puasa ke-2 dimana ane ketika itu memiliki berbuka puasa di salah satu warteg tempat tinggal ane, luar biasa disana ane begitu berasa sebagai perantau buka sendirian di warteg tanpa keluarga, namun yang sedikit menenangkan hati ane adalah menu saat itu adalah ayam goreng, ya lumayan karena saat itu melum sampai ke tanggal tua

Sebagai perantau ya untuk tempat berbuka itu dimana bawaan hati, berbeda pada saat dirumah, berbuka ya sebatas dirumah dan palingan sekali kali ada bukbar ya gitu, ane sendiri sampai puasa ke 15 sudah berbuka di banyak tempat, diantaranya ada seminggu di warung Kopi Ayah, kemudian ada juga di Warteg belakang, kemudian ada sehari di warung padang (ini pada saat sudah begitu kanggen masakan padang) kemudian juga berbuka di acara yang di adakan oleh Himpunan Masyarakat Aceh Yogyakarta (HIMA), kemudian acara yang kami adakan sendiri oleh Keluarga Aceh Besar Yogyakarta (KABY) dan ada beberapa kali di Mesjid :D

Berbuka dimesjid adalah suatu hal yang paling banyak dipilih oleh para perantau, dan yang membuat asiknya Jogja ini adalah umumnya setiap mesjid mengadakan buka puasa bersama setiap harinya, dan ini terbuka untuk umum seluruh umat musli yang menjalankan ibadah puasa, untuk menunya sendiri beragam, dan hingga ada satu portal mahasiswa jogja membuat sebuah artikel yang mengberi list mesjid mesjid yang menyediakan makanan makanan enak, ini adalah mesjid yang paling banyak diburu oleh para mahasiswa

Sahur sendiri kebetulan kami para penghuni asrama KABY membut jadwal piket untuk memasakan makanan saat sahur, untuk kebutuhan belanjanya sendiri kami patunggan sesama, dan jadwal piket ane kena di kelompok kelima juga merupakan kelompok terakhir, perkelompok dibagi sekita 3-4 orang, piket bertugas masak nasi, lauk dan membuat air untuk teman teman lain, selain itu piket juga harus membangunkan sahur, lumayan memang tugasnya.
Biasanya itu mulai belanja sore/malam dan masak sekitaran tenggah malam atau jam sekitar jam 12 atau jam 1 malam, ada cerita konyol yang sedikit memalukan saat jadwal piket ane, saat itu karena lumayan ngantuk ane memilih tidur sebentar sebelum mulai bertugas, dan kurang lebih jam 1, teman ane membangunkan ane dan langsung saja di berkata, stel nasi ya.. dengan begitu pede ane kata oke… dan seperti memasak nasi biasa ane membersikan Pan rice cooker dan kemudian memasukan beras yang super banyaki, ane melakukan ini karena ane merasa nasi yang harus dimasak banyak maka beras yang dimasukan harus banyak, ini ane lakukan tanpa takaran apakah akan bisa masak apa bila beras segini, dan takaran airnya juga tidak sesuai

Singkat cerita setlah 1 jam kurang ane chek setiap Rice Cooker, karena ketika itu ada sekitar 4 rice cooker, dan ternyataa.. luar biasa nasinya satupun tidak ada yang berhasil, problemnya berbeda beda, ada yang memang tidak masak karena kebanyakan beras, ada yang setengah masak, ada yang sudah masak namun keras luar biasa, akhir cerita semua nasi tersebut harus dikukus di komper agar bisa kembali normal, dan saat ini waktu begitu mepet, sedangkan lauk sendiri juga belum masak keseluruhan

Namun disana ane belajar satu hal, bahwa begitu tidak bisa apa apanya ane, tingkat memasak nasi aja tidak bisa, dan disini di perantauan ini ane mulai belajar berbagai hal yang tidak pernah ane pelajari di Aceh, mengapa tidak pernah ane pelajari di Aceh ? karena hidup ane di Aceh begitu tenang, mau makan nasi sudah dimasak lauk dan sebagainya lengkap, ane merasa tidak ana sedikitpun kemandirian dalam diri ane saat disana, baju kotor tinggal masukan ke mesin cuci, butuh apa apa tinggal minta sama orang tua, ya begitulah andainya ane tidak memilih merantau mungkin ya hidup ane begitu saja mengikuti arus.

Semoga bermanfaat, dan luar biasa terima kasih ane buat yang baca, janggal lupa share dan commentary a, oh iya karena ini juga sudah mau sahur ane pamit undur diri dari artikel ini sekali lagi semoga bisa bermanfaat bagi pembaca sekalian 
4 Komentar
avatar

Wah..ternyata hidup kita tidah jauh berbeda teman :)

Balas
avatar

begitulah teman, nasib perantau yang harus pertama kali puasa di daerah orang

Balas
avatar

merantau itu membangun kemandirian dan kesiapan mental kita bro .. so enjoy it .. salam blogwalking

Balas
avatar

Oke, thanks semangat dan motivasinya gung..
salam blogger Aceh !

Balas

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...