Ujian, Penghambat Produktivitas Terbesar Mahasiswa

Sekilas, sesaat setelah membaca judul dari artikel ini mungkin sebagian besar teman-teman bertanya-tanya. Ujian apa yang dimaksud disini, Mengapa harus menyalahkan ujian saat kreatifitas terhambat. Apa salah ujian ? Jadi untuk lebih memperjelas. Pada paragraph awal ini aku akan sedikit mengulas ujian apa. Ujian yang aku maksud disini adalah segala bentuk ujian dalam skala pendidikan.

Silahkan, jika ada teman-teman yang tidak setuju dengan opini yang akan aku utarakan berikut ini. Tak ada satu keharusan bahwa ketika membaca sebuah artikel opini kita harus setuju dengan pendapat penulis, semua kembali kepada pembaca, mau setuju atau tidak.

Langsung saja, ceritanya begini. Dari sejak awal aku menjadi siswa pendidikan formal yaitu tingkat sekolah dasar (SD) aku dan juga mungkin semua teman-teman merasakan yang namanya ujian. Hal ini dari sejak awal kita menjadi siswa, tepatnya di kelas 1, semester 1.

Hingga sekarang aku menjadi mahasiswa, begitu juga teman-teman mahasiswa lainya, pastinya masih yang namanya merasakan ujian. Beda tingkatan tentunya juga beda sistem. Jika dimasa SD dan SMP aku hanya merasakan 2 X ujian dalam satu tahun, dimasa SMA dan Kuliah aku harus merasakan 4 X Ujian dalam satu tahun.

Rasanya, baru saja kemarin aku memulai menjadi mahasiswa semester 3, lah tiba-tiba sudah masuk dalam masa ujian tengah semester. Mungkin teman-teman mahasiswa lain juga merasakan hal yang sama. Waktu rasanya berjalan begitu cepat, bahwa kita sendiri bisa ditinggal oleh waktu, aku masih kurang yakin kalau yang merasakan hal ini aku sendiri, karena ada beberapa teman-teman dekatku yang bercerita merasakan hal yang sama dengan aku.

Sekarang yang kembali menjadi pertanyaan, apa hubungan antara ujian dan pembatasan kretifitas.  Jika dilihat dari sisi psikologis sendiri ketika menghadapi ujian, kita selalu dibuar fokus sehingga mental kita menjadi takut untuk mengexpresikan kreatifitas. Mungkin bisa dilihat ketika masa ujian, teman-teman yang berkarya menjadi sepi, ya semua ini ditimbulkan dari mental takut diawal tadi.

Hal inilah yang menurutku menjadi sisi negative dari sebuah ujian. Alangkah baiknya memang jika ujian tidak terlalu sering dilaksanakan. Mungkin bisa menjadi pertimbangan untuk membuat kebijakan baru oleh mentri pendidikan maupun menteri ristek dikti untuk membuat kuantitas masa ujian menjadi lebih sedikit. Apakah hanya setahun sekali di akhir tahun, ataupun setahun dua kali di setiap akhir semester.

Aku sendiri begitu keberatan dengan sistem ujian yang ada di kampusku saat ini. Mungkin juga sama dengan kampus teman-teman, dimana aku harus mengikuti 4 kali ujian dalam satu tahun. Mulai dari ujian tengah semester genap, ujian akhir semester genap, ujian tengah semester ganjil, ujian akhir semester ganjil.

Hal ini sangatlah memberatkan ketika seorang mahasiswa ingin berkarya dalam bentu apapun. Mahasiswa tentunya akan ikut terbebani ketika akan berkarya dalam waktu yang dekat dengan ujian. Ujian apapu ini UTS maupu UAS. Semua sama, semua membuat mental seorang mahasiswa menjadi terlalu fokus kepada ujian sehingga membuat pikiranya stalk dan susah untuk berpikir untuk karyanya.

Kreatifitas karya yang aku maksud disini bersifat general, apapun itu yang dihasilkan oleh mahasiswa. Mau itu produk, karya, tulisan, desain, bahkan sebuah event. Semua hal ini akan sangat tergangung pengembanganya saat masa ujian. Apalagi yang kita tau banyak hal yang sifatnya berkelanjutan yang dibuat mahasiswa, sehingga ujian tiba semua hal tersebut terlupakan.
0 Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...